Rabu, 16 Januari 2013

Seinendan

Seinendan
Pada tanggal 29 April 1943, tepat pada hari ulang tahun Kaisar Jepang diumumkan secara resmi berdirinya dua organisasi pemuda yang diberi nama Seinendan dan Keibodan. Kedua organisasi ini langsung dibawah pimpinan Gunseikan. Pembentukan ini bertujuan untuk mendidik dan melatih para pemuda agar dapat menjaga dan mempertahankan tanah airnya dengan kekuatan sendiri. Maksud yang disembunyikan adalah agar dapat memperoleh tenaga cadangan untuk memperkuat usaha mencapai kemenangan akhir dalam perang Asia Pasifik saat itu
. Kepada anggota Seinendan diberikan pelatihan militer baik untuk mempertahankan diri maupun untuk penyerangan. Mereka adalah pemuda-pemuda Asia yang berusia antara tahun 15-25 tahun (kemudian diubah menjadi 14-22 tahun). Mereka dilatih militer untuk mempertahankan diri maupun penyerangan. Sebagai Pembina Seinendan bertindak Naimubu Bunkyoku (Departemen Urusan Dalam Negeri Bagian Pengajaran, Olahraga dan Seinendan). Jumlah anggota awalnya sebanyak 3500 orang pemuda dari seluruh Jawa, kemudian anggotanya bertambah lagi menjadi 500.000 orang pemuda pada masa akhir pendudukan jepang.

Seinendan hanyalah suatu organisasi pemuda pada tingkat daerah atau Kecamatan. Motivasi pemuda menjadi Seinendan semula dipaksa, kemudian pemuda- pemuda lainnya mengikuti Seinendan. Pada bulan Oktober 1944 dibentuk Joysyi Seinendan (Seinendan Putri). Disini mereka mendapat latihan dasar kemiliteran tetapi tanpa menggunakan senjata yang sebenarnya.

Fungsi pokok Seinendan adalah untuk melatih dan memobilisasikan anggota-anggotanya untuk berbagi kegiatan dengan berbagai macam-macam tujuan :

1. Latihan bahasa Jepang dan bahasa Indonesia serta olah raga dan sebagainya.

2. Kegiatan-kegiatan sukarela untuk kepentingan umum, seperti pembersihan jalan, pembangunan irigasi dan infrastruktur lainya, serta transportasi dan sebagainya.

3. Peningkatan semangat kerja.

4. Latihan dalam berbagi keahlian.

5. Meningkatkan berbagi industri dan peningkatan produksi.

6. Pencegahan serangan udara dan kebakaran.

7. Latihan memobilisasikan tenaga manusia dalam keadaan darurat.

Komandan tertinggi Seinendan adalah Gunseikan, sedangkan sebagai wakil komandan adalah keoala-kepala Naimubu dan Somubu. Pimpinan Seinendan ditingkat daerah dipegang oleh kencho dan shico. Para komon, sanyo dan kanji diangkat oleh dancho pada setiap tingkatan. Diangkat sebagai komon adalah para komandan militer atau polisi setempat maupun pejabat tinggo atau tokoh Indonesia, sedangkan yang diangkat sebagai sanyo adalah pejabat tinggi dari setiappemerintah daerah maupun kepala sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Para kanji dikerahkan dari kalangan kantor pemerintah daerah setempat.

Seinendan memiliki dua macam struktur organisasi yaitu struktur teritorial dan struktur sektorial. Organisasi teritorial terdiri atas satuan-satuan pada tingkatan shu, kochi dan tokubetsu shi, dan kebawah sampai tingkatan ken, shi dan shiku, sedangkan struktur sektorial terdiri atas seinendan kojo (pabrik) dan jigjoyo (perkebunan). Susunan pengurus Seinendan tertdiri atas dacho (komandan), fuku dancho (wakil komandan), komon (penasehat), sanyo (anggota dewan pertimbangan) dan kanji (administrator).

Didalam Seinendan, meski keikutsertaannya bersifat sukarela tetapi sebenarnya anggotanya ditunjuk oleh kepala desa dari kalangan pemuda terdidik yang berasal dari keluarga relatif kaya dan dari keluarga yang memiliki lebih dari seseorang anak laki-laki. Anggota yang dipilih tersebut haruslah mereka yang dapat menyisihkan waktu, tenaga serta uang untuk kegiatan-kegiatan Seinendan. Mereka juga harus menghadiri latihan mingguan di kota kecamatan.

Tanggapan terhadap Seinendan lebih baik pada masyarakat pedesaan dari pada masyarakat perkotaan. Bagi kebanyakan pemuda desa, keikutsertaanya dalam Seinendan merupakan pengalaman yang sangat berharga. Mereka yang tadinya tidak pernah keluar desanya, mempunyai kesempatan mengunjungi kota-kota kecamatan dan kabupaten. Selain itu, merega juga mempunyai kesempatan untuk menghadiri peristiwa-peristiwa penting yang di kota dan bercampur dengan pemuda kota. Kontak dengan pemuda kota ini tentu saja mengembangkan pengalman mereka dalam berbagai hal.




Daftar pustaka

Cahyo Budi, 1995. Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia, IKIP Press; Semarang

Nugroho Notosusano, 1979. Tentara Peta Pada Jaman Pendudukan Jepang di Indonesia, Gramedia; Jakarta.

Sartono Kartodirdjo, 1975. Sejarah Nasional Indonesi Jilid VI, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

bacalah dan tinggalkan komentar